Hidup tak akan bisa lepas dari sebuah 'aturan'. Ya, sebuah aturan hidup.
Semua sisi hidup kita pasti ada sebuah aturan yang mengikat segala tindakan kita. Bahkan di alam bebas pun, seperti; hutan, juga ada sebuah aturan. Segala kehidupan di dunia ini penuh dengan aturan supaya keberlangsungan hidup ini menjadi teratur. Jika segalanya berjalan dengan teratur maka hidup ini terasa lebih makmur.
Nah, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita bisa menerima aturan itu. Kita bisa mengatur orang lain, dan harus mau untuk diatur orang lain.
Semua aturan pasti bertujuan untuk kebaikan, tak mungkin ada maksud buruk dibalik itu.
Ketika kita terikat sebuah aturan, kita harus bisa bersikap bijak dengan mau mentaati aturan itu. Tetap berpikir positif atas adanya aturan itu. Lebih baik berprinsip untuk selalu berusaha bagaimana mentaati aturan, bukan berpikir bagaiamana melanggar aturan. Rasa menghargai orang si pembuat aturan juga menjadi poin penting dalam hidup kita. Kita harus menerimanya dengan lapang dada. Seberat apapun aturan itu, yakinlah itu baik untuk kita. Pasti kita akan merasakan manfaatnya dengan baik.
Memang sulit sih kita bisa langsung menerima sebuah aturan, jika ada hal yang dirasa bertentangan dengan keinginan kita atau terlalu mengikat seakan tak membebaskan ruang gerak kita. Bahkan menjadikan kita tertekan karena paksaan aturan itu. Padahal jika berpikiran terbuka, berpikir jauh lebih baik ke depan, segalanya akan terasa lebih ringan. Justru dengan segala keterbatasan, kita akan lebih bersyukur karena ada aturan tersebut. Seperti contoh: larangan membawa ponsel dan laptop di lingkungan pesantren, ini adalah sebuah aturan umum di lembaga pendidikan islami yang tujuannya sangat baik untuk siswa, yakni agar siswa lebih fokus untuk belajar dan tidak mudah tergoda dengan hiburan2 atau hal2 yang kurang bermanfaat. Namun betapa banyak dari siswa berpikir kreatif untuk melanggar aturan ini karena menurut mereka, aturan ini sangatlah membatasi keinginan mereka untuk mendapatkan hiburan dalam hidup, dan juga aturan ini menjadikan mereka kudet alias kurang update dengan hal2 kekinian, atau membuat mereka cupu, sehingga mereka gengsi untuk mentaatinya dan lebih memilih melanggarnya dengan segenap sekenario untuk sebuah pelanggaran tersebut. Mereka harusnya berpikir lebih jernih untuk aturan ini, dan sadar bahwa hal ini untuk mendidik mereka lebih dewasa dalam menyikapinya. Supaya hidup menjadi lebih tenang, tentram, dan damai, tanpa ada rasa terintimidasi karena pelanggaran aturan itu.
Contoh lain: Peraturan lalu lintas, juga merupakan hal signifikan dalam hidup yang sulit untuk ditaati. Masih saja banyak pelanggar yang berpikir egois karena merasa dia akan selamat selamanya dalam hidupnya. Padahal maksud dan tujuan pihak pembuat aturan yakni kepolisian untuk aturan lalu lintas adalah menjadikan hidup ini lebih aman dan tindakan mawas diri untuk keselamatan, karena kita tidak akan tahu kapan dan bagaimana sesuatu buruk akan terjadi pada kita. Masuk akal kan. Kita pasti bisa mentaatinya kalau kita sadar akan akibat buruk yang ditimbulkan jika melanggarnya. Harus sadar ya.
Nah, satu lagi sifat buruk manusiawi adalah rasa egoismenya yang berkenaan dengan aturan. Kita suka mengatur dan bisa mengatur atau membuat aturan untuk orang lain, namun sangat sulit untuk menjalani aturan dari orang lain. Harusnya ketika kita melanggar suatu aturan, kita juga berpikir bagaimana kalau aturan kita dilanggar orang lain, pasti ada rasa marah atau jengkel karena aturan kita tidak dihargai. Seperti inilah hidup memang ada timbal balik. Ketika kita bisa mengatur, kita juga harus siap diatur. Seprti contoh: Aturan tentang tindakan korupsi. Hal ini sudah umum didengar bahwa sangatlah kejam jika terjadi suatu tindakan korupsi. namun betapa banyak para koruptor yang hanya memikirkan dirinya yang hanya bisa mengatur namun dirinya sendiri tidak mau diatur, sehingga seenaknya sendiri melakukan tindakan korupsi. Sungguh sangat disayangkan jika seorang yang memiliki jabatan tinggi dengan kualifikasi dalam dunia kerjanya dan sangat dipercaya orang lain, ternyata telah mengkhianati banyak orang dengan tindakan korupsinya. Semua pasti akan ada balasan tersendiri dan harus siap menanggung resiko terburuknya.
So, yang kita perlukan di dunia ini adalah kepercayaan. Rasa saling percaya bahwa manusia sebenarnya memiliki sifat dasar untuk saling menyelamatkan orang lain dari sebuah kerugian atau kejadian buruk, dengan adanya aturan atau dengan dibuatnya sebuah aturan. Namun tak banyak orang yang menyadarinya dan mau berpikiran terbuka menerima segala kebaikan yang datangnya bisa dari manapun, termasuk hal terindah yang tersembunyi dibalik sebuah aturan.
Be good people, guys!
Semua sisi hidup kita pasti ada sebuah aturan yang mengikat segala tindakan kita. Bahkan di alam bebas pun, seperti; hutan, juga ada sebuah aturan. Segala kehidupan di dunia ini penuh dengan aturan supaya keberlangsungan hidup ini menjadi teratur. Jika segalanya berjalan dengan teratur maka hidup ini terasa lebih makmur.
Nah, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita bisa menerima aturan itu. Kita bisa mengatur orang lain, dan harus mau untuk diatur orang lain.
Semua aturan pasti bertujuan untuk kebaikan, tak mungkin ada maksud buruk dibalik itu.
Ketika kita terikat sebuah aturan, kita harus bisa bersikap bijak dengan mau mentaati aturan itu. Tetap berpikir positif atas adanya aturan itu. Lebih baik berprinsip untuk selalu berusaha bagaimana mentaati aturan, bukan berpikir bagaiamana melanggar aturan. Rasa menghargai orang si pembuat aturan juga menjadi poin penting dalam hidup kita. Kita harus menerimanya dengan lapang dada. Seberat apapun aturan itu, yakinlah itu baik untuk kita. Pasti kita akan merasakan manfaatnya dengan baik.
Memang sulit sih kita bisa langsung menerima sebuah aturan, jika ada hal yang dirasa bertentangan dengan keinginan kita atau terlalu mengikat seakan tak membebaskan ruang gerak kita. Bahkan menjadikan kita tertekan karena paksaan aturan itu. Padahal jika berpikiran terbuka, berpikir jauh lebih baik ke depan, segalanya akan terasa lebih ringan. Justru dengan segala keterbatasan, kita akan lebih bersyukur karena ada aturan tersebut. Seperti contoh: larangan membawa ponsel dan laptop di lingkungan pesantren, ini adalah sebuah aturan umum di lembaga pendidikan islami yang tujuannya sangat baik untuk siswa, yakni agar siswa lebih fokus untuk belajar dan tidak mudah tergoda dengan hiburan2 atau hal2 yang kurang bermanfaat. Namun betapa banyak dari siswa berpikir kreatif untuk melanggar aturan ini karena menurut mereka, aturan ini sangatlah membatasi keinginan mereka untuk mendapatkan hiburan dalam hidup, dan juga aturan ini menjadikan mereka kudet alias kurang update dengan hal2 kekinian, atau membuat mereka cupu, sehingga mereka gengsi untuk mentaatinya dan lebih memilih melanggarnya dengan segenap sekenario untuk sebuah pelanggaran tersebut. Mereka harusnya berpikir lebih jernih untuk aturan ini, dan sadar bahwa hal ini untuk mendidik mereka lebih dewasa dalam menyikapinya. Supaya hidup menjadi lebih tenang, tentram, dan damai, tanpa ada rasa terintimidasi karena pelanggaran aturan itu.
Contoh lain: Peraturan lalu lintas, juga merupakan hal signifikan dalam hidup yang sulit untuk ditaati. Masih saja banyak pelanggar yang berpikir egois karena merasa dia akan selamat selamanya dalam hidupnya. Padahal maksud dan tujuan pihak pembuat aturan yakni kepolisian untuk aturan lalu lintas adalah menjadikan hidup ini lebih aman dan tindakan mawas diri untuk keselamatan, karena kita tidak akan tahu kapan dan bagaimana sesuatu buruk akan terjadi pada kita. Masuk akal kan. Kita pasti bisa mentaatinya kalau kita sadar akan akibat buruk yang ditimbulkan jika melanggarnya. Harus sadar ya.
Nah, satu lagi sifat buruk manusiawi adalah rasa egoismenya yang berkenaan dengan aturan. Kita suka mengatur dan bisa mengatur atau membuat aturan untuk orang lain, namun sangat sulit untuk menjalani aturan dari orang lain. Harusnya ketika kita melanggar suatu aturan, kita juga berpikir bagaimana kalau aturan kita dilanggar orang lain, pasti ada rasa marah atau jengkel karena aturan kita tidak dihargai. Seperti inilah hidup memang ada timbal balik. Ketika kita bisa mengatur, kita juga harus siap diatur. Seprti contoh: Aturan tentang tindakan korupsi. Hal ini sudah umum didengar bahwa sangatlah kejam jika terjadi suatu tindakan korupsi. namun betapa banyak para koruptor yang hanya memikirkan dirinya yang hanya bisa mengatur namun dirinya sendiri tidak mau diatur, sehingga seenaknya sendiri melakukan tindakan korupsi. Sungguh sangat disayangkan jika seorang yang memiliki jabatan tinggi dengan kualifikasi dalam dunia kerjanya dan sangat dipercaya orang lain, ternyata telah mengkhianati banyak orang dengan tindakan korupsinya. Semua pasti akan ada balasan tersendiri dan harus siap menanggung resiko terburuknya.
So, yang kita perlukan di dunia ini adalah kepercayaan. Rasa saling percaya bahwa manusia sebenarnya memiliki sifat dasar untuk saling menyelamatkan orang lain dari sebuah kerugian atau kejadian buruk, dengan adanya aturan atau dengan dibuatnya sebuah aturan. Namun tak banyak orang yang menyadarinya dan mau berpikiran terbuka menerima segala kebaikan yang datangnya bisa dari manapun, termasuk hal terindah yang tersembunyi dibalik sebuah aturan.
Be good people, guys!
Comments
Post a Comment